wanita

wikilima – Daerah kewanitaan yang lembab memang rentan terjangkit infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau kuman jahat. Sekitar 30 persen wanita di dunia pasti mengalami vaginitis.

Vaginitis biasanya ditandai dengan keputihan yang tidak biasa, mulai dari perubahan bentuk, warna dan bau. Keputihan normal ditandai dengan warna yang jernih dan tidak berbau serta biasanya muncul saat sebelum dan setelah haid.

“Tapi kalau berwarna putih susu kayak kembang tahu, atau kuning, atau bahkan hijau. Lalu ada rasa gatal dan ada bau amis, itu perlu diperiksakan ke dokter,” kata dr Grace Valentine, Sp.OG dari RS Pondok Indah Jakarta, Senin (17/12/2018).

Penyebab dan jenisnya bermacam-macam, ada bacterial vaginosis yang disebabkan oleh perubahan keseimbangan kuman, biasanya ditandai dengan keputihan berwarna putih hingga hijau dan berbau amis. Lalu keputihan yang disebabkan oleh jamur, umumnya putih bergumpal dan ada rasa gatal tak tertahankan.

Kemudian ada juga yang disebabkan oleh parasit, yaitu trichomonas vaginalis, yang merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual. Umumnya ditandai dengan keputihan yang berbusa, berwarna kuning atau hijau, perih di vagina dan berbau lebih amis.

Virus Herpes simpleks dapat menyebabkan munculnya sariawan di bibir vagina. Dan jika alami keputihan bercampur dengan darah atau kamu mengalami keputihan yang cukup lama, bisa jadi tanda kanker serviks yang disebabkan oleh human papilomavirus (HPV).

dr Grace menyebutkan bahwa kebersihan di daerah kewanitaan memang menjadi hal yang utama. Ia menyarankan pada wanita untuk benar-benar memperhatikan kebersihan, dan jika ada gejala-gejala yang tidak normal segera konsultasikan ke dokter.

Berikut adalah cara mencegah terjadinya vaginitis di daerah kewanitaanmu:

  1. Pastikan vagina tetap bersih dan kering. dr Grace menyarankan untuk mengeringkan vagina menggunakan tisu kering, bukan tisu basah.
  2. Seka vagina dari arah depan ke belakang, untuk menghindari pindahnya kuman dari anus ke vagina yang akan menyebabkan bacterial vaginosis.
  3. Gunakan sabun cuci vagina sesuai ph, jangan gunakan sabun mandi biasa.
  4. Kenakan pakaian dan pakaian dalam yang berbahan menyerap air, misalnya katun.
  5. Tidak melakukan vaginal douching atau pencucian vagina dengan cara menyemprotkan cairan khusus ke dalam liang vagina.
  6. Perilaku seks aman, tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  7. Gunakan kondom saat berhubungan seksual, agar mencegah terjadinya penularan infeksi.